Pengikut

Jumat, 03 Agustus 2012

Proses pembuatan gula pasir

Proses pembuatan gula pasir


PROSESING NIRA TEBU MENJADI GULA


Proses pembuatan gula pasir atau gula kristal putih di PG pada dasarnya adalah pemisahan sukrosa dari bahan-bahan non-sukrosa, kemudian diikuti dengan proses pengkrisatalan sukrosa. Bahan-bahan lain yang ada dalam nira tebu telah diuraikan pada Bab 3 di atas. Secara umum, sukrosa yang terkandung pada tanaman tebu di Jawa Timur berada pada kisaran 5-12% meskipun untuk kasus-kasus tertentu kadarnya bisa lebih tinggi lagi.
Kandungan sukrosa dalam tebu tergantung kepada kualitas tebu itu sendiri serta proses pemerahannya di PG. Umumnya bila kandungan sukrosa dalam tebu tinggi akan diikuti oleh hasil prosesing yang tinggi juga. Karena itu, tugas PG sebenarnya bukan membuat gula, tetapi sebatas hanya mengambil gula. Gula atau sukrosa sepenuhnya dihasilkan oleh tanaman dan disimpan dalam batang. Namun demikian, tentu saja kinerja PG yang kurang baik akan berdampak terhadap proses pengambilan gula. Pada PG dengan tingkat efisiensi rendah, jumlah sukrosa yang terambil akan lebih sedikit dibanding PG dengan efisiensi baik.
Proses pembuatan gula pasir di PG meliputi beberapa tahapan, yaitu penggilingan atau ekstraksi, pemurnian, pemanasan dan evaporasi, kristalisasi, pemisahan kristal (sentrifugasi), serta pengeringan dan pengepakan (Gambar 5). Proses penggilingan tebu atau ekstraksi nira dari tebu diling dilakukan di stasiun gilingan. Proses selanjutnya mulai dari pemurnian nira hingga pengepakan berlangsung di stasiun pengolahan. Kinerja PG secara keseluruhan merupakan gabungan antara kinerja stasiun gilingan dan stasiun pengolahan. Satu stasiun lain yang berfungsi sebagai sumber energi untuk PG adalah stasiun pembangkit uap.
Tebu yang diangkut ke PG dimasukkan ke meja tebu, kemudian dicacah dengan pisau membentuk potongan-potongan kecil. Potongan tebu masuk kedalam tandem gilingan-3 rol, yang biasanya terdiri atas 4 atau 5 unit gilingan yang disusun secara seri. Nira yang terekstrak (nira mentah) dari batang akan jatuh ke bagian bawah gilingan, sementara ampas akan terus bergerak hingga gilingan akhir. Untuk meminimumkan kehilangan gula yang terbawa ampas, dilakukan pencucian ampas dengan air (imbibisi) menjelang ampas masuk ke unit gilingan akhir. Dalam proses penggilingan yang baik, lebih dari 95% sukrosa tebu akan masuk kedalam nira mintah dan hanya sedikit yang terangkut ampas.
Kinerja stasiun gilingan dinyatakan dalam mill extraction (ME). Nilai ini menunjukkan jumlah sukrosa yang berhasil di ekstrak (dalam nira mentah) dibandingkan terhadap kadar sukrosa dalam tebu. Semakin tinggi nilai ME, semakin baik kinerja stasiun gilingan. Nilai ME PG di Jawa Timur rata-rata sekitar 91%. Ini menunjukkan bahwa pengambilan sukrosa dari tebu yang digiling di PG Jawa Timur baru mencapai 91% dan menyisakan sekitar 9% di dalam ampas.
PG-PG di Jawa Timur hanya memiliki satu macam unit gilingan, yaitu unit gilingan 3 rol yang dilengkapi dengan tekanan hidrolik untuk membantu pemerahan. Akan tetapi, unit gilingan biasanya dilengkapi oleh peralatan lain yang bervariasi seperti Donnelly chute, pressure feeder, fourth roller, feeder roller, dan lain-lain.
Ampas yang keluar dari gilingan akhir mengandung gula yang tidak terekstrak (terperah), serat-serat selulosa serta 45-55% air. Ampas selanjutnya dibawa ke boiler (ketel) sebagai bahan bakar. Pada PG yang kelebihan ampas, ampas digunakan untuk bahan baku pembuatan kertas, particle board, pakan ternak atau produk komersial lainnya.

Tebu yang masuk ke gilingan sebaiknya memiliki kualitas yang baik atau memenuhi kriteria manis, bersih dan segar (MBS). Manis artinya tebu dalam kondisi kemasakan optimal sehingga mengandung banyak sukrosa. Sukrosa dalam nira biasanya dinyatakan dalam % pol. Nilai pol pada nira berkualitas baik adalah lebih dari 10%. Bersih berarti tebu bebas dari trash (daun, sogolan, pucukan, dll.), tanah, dan kotoran lainnya. Kadar trash dan kotoran pada tebu giling harus dibawah 5%. Tebu segar menggambarkan bahwa tebu digiling dalam rentang waktu kurang dari 24 jam setelah ditebang. Tebu yang lambat tergiling bisanya mengandung pati dan dekstran dalam jumlah banyak sehingga akan menganggu proses pemurnian dan menurunkan perolehan sukrosa.
Nira mentah yang dihasilkan dari gilingan umumnya asam dan keruh, sehingga harus dimurnikan lebih lanjt. Tujuan pemurnian adalah menghilangkan sebanyak mungkin bahan bukan gula (non sugar), baik yang tidak larut seperti bagasilo, partikel koloid maupun yang larut seperti polisakarida, protein, dan koloran (zat warna) sehingga nira menjadi jernih dan lebih murni. Secara umum, bahan untuk klarifikasi nira mentah menggunakan susu kapur dan panas. Susu kapur sekitar 0,5 kg per ton tebu akan menetralisir nira dengan membentuk garam kapur yang tidak larut (kalsium fosfat). Pemanasan nira yang tercampur susu kapur akan menyebabkan koagulasi protein, lemak, lilin dan gum, sehingga bahan-bahan ini akan mengendap ke bawah membentuk butiran atau partikel.
Nira yang mengandung susu kapur dinetralkan kembali dengan penambahan sulfat (sulfitasi) atau karbonat (karbonatasi). Nira selanjutnya dipanaskan sampai 105°C, ditambah flokulan, terus dialirkan ke clarifier (bejana pengendap) untuk proses pengendapan.
Sebagian besar PG di Indonesia melakukan proses netralisasi pH nira secara sulfitasi. Proses pemurnian karbonatasi kurang populer saat ini karena kendala biaya pengadaan bahan pembantu yang lebih mahal serta kebutuhan tenaga kerja lebih banyak.
Nira jernih yang berada di bagian atas bejana pengendap mengalir ke tangki nira jernih. Endapan yang ada di bagian bawah tangki dipompa ke tangki nira kotor untuk kemudian ditapis dalam rotary vacuum filter. Hasil penapisan berupa nira tapis dan blotong. Nira tapis dikembalikan ke tangki nira mentah, sementara blotong dipisahkan sebagai endapan pengotor. Nira keruh tidak dapat diolah lebih lanjut karena dapat menyebabkan pembentukan warna dan masakan menjadi sangat kental, yang bisa berakibat kepada penurunan perolehan dan kualitas gula.
Sisa kapur yang masih terbawa ke dalam nira jernih harus diusahakan sesedikit mungkin. Sisa kapur yang terbawa dapat mendorong pembentukan kerak pada pipa evaporator. Pada tebu giling yang tidak segar pH nira biasanya masam sehingga perlu susu kapur lebih banyak. Akibatnya, sisa susu kapur yang terbawa kedalam nira jernih juga meningkat.
Nira jernih selanjutnya dibawa ke evaporator untuk diuapkan airnya. Nira jernih memiliki kadar air sekitar 85% dan mempunyai komposisi yang sama dengan nira mentah, kecuali bahan-bahan yang telah terendapkan dalam proses klarifikasi. Evaporator terdiri dari 4 atau 5 bejana silindris vertical (effects) yang disusun seri. Bejana terakhir dihu­bungkan dengan kondensor untuk menghasilkan kondisi vacuum. Penguapan pada bejana I dilakukan menggunakan uap bekas, pada bejana II menggu­nakan uap nira dari bejana I, pada bejana III menggunakan uap nira bejana II, dan seterusnya. Susunan bejana-bejana seperti diatas tersebut disebut multiple effect. Sekitar 2/3 dari air yang ada dalam nira diuapkan dalam alat ini.

Nira kental yang airnya sebagian besar sudah diuapkan pada evaporator, kemudian dikristalkan dalam bejana silindris yang disebut pan masak (Gambar 10). Pan masak adalah suatu bejana vakum dengan bagian dilengkapi tubular heat exchanger. Bagian atas pan masak merupakan tempat masakan yang dihubungkan dengan peralatan vakum (kondensor).
Untuk menghasilkan gula berkualitas baik, brix nira kental harus tinggi agar proses kristalisasi berjalan efisien dan warna nira kental harus terang (jernih). Kristalisasi bertujuan untuk mengambil gula dalam bentuk kristal dari nira kental. Larutan nira kental diuapkan secara perlahan-lahan dalam bejana vakum, sampai pada tingkat kejenuhan tertentu. Selanjutnya, bibit gula dalam ukuran tertentu ditambahkan secukupnya sehingga akan mendorong proses pembesaran kristal sukrosa dari larutan nira. Kondisi terus dipertahankan dengan cara mengatur penguapan dan umpan nira kental secara seimbang. Setelah kristal mencapai ukuran tertentu, penguapan diteruskan hingga mencapai brix tertentu. Campuran kristal dan larutan gula (mother liquor) dinamai masakan. Kristal dipisahkan dari mother liquor (sirup) dengan cara sentrifugasi. Proses masak pada PG-PG di Jawa Timur umumnya dilakukan secara bertingkat, yaitu: A, C dan D.
Masakan A
Proses masak tahap pertama dengan menggunakan bahan baku nira mentah dinamakan masakan A. Bibit gula dalam proses masak A adalah gula hasil proses masakan C, dengan dengan ukuran kristal sekitar 0,4 mm. Kristal yang dihasilkan dari proses masak ini disebut gula A dan sirupnya disebut sirup A. Gula A dicampur dengan air atau klare dipisahkan dengan mesin sentrifugal menghasilkan gula putih dan larutan klare. Gula putih selanjutnya dikeringkan dan dikemas sebagai gula produk.
Masakan C
Didalam sirup A masih terkandung banyak sukrosa yang belum jadi kristal. Sukrosa tersebut kemudian diambil kembali melalui proses masak berbahan baku sirup A atau biasa disebuit masakan C. Pada proses masakan C, bibit yang digunakan adalah gula D dengan ukuran kristal sekitar 0,2 mm. Proses masak berlangsung sebagaimana pada masakan A, namun karena kandungan sukrosa pada sirup A sudah menurun, maka kristalisasi pada masak C butuh waktu lebih lama. Gula C diambil dengn cara sentrifugasi, sedangkan sirupnya digunakan untuk bahan baku pada masak D.
Masakan D
Masakan D bisanya menggunakan bahan baku campuran sirop C dan sirup A. Proses masak D berlangsung jauh lebih lama dibanding masak A, karena tingkat kemurnian sukrosa bahan yang digunakan rendah. Khusus untuk masakan D, setelah turun dari bejana masak dilanjutkan dengan kristalisasi lanjut dengan pendinginan di palung pendingin sampai lebih dari 24 jam. Setelah dipisahkan di mesin sentrifugal, gula D dilebur kembali dan dicampur dengan nira kental dan sirup D atau lebih dikenal dengan tetes.
Pemisahan kristal sukrosa dari mother liquor (tetes atau sirup) yang berasal dari hasil masak A, C dan D dilakukan dengan menggunakan mesin pemutar kecepatan tinggi atau sentrifus. Ada dua sistem sentrifuse yang digunakan di PG, yaitu sistem batch dan kontinyu (Gambar 11). Sistem yang pertama dipakai untuk memisahkan sukrosa dari masakan A, sedangkan sistem yang kedua dipakai untuk mengambil sukrosa dari masakan C dan D.
Proses sentrifugasi masakan A akan menghasilkan gula dengan grade yang tinggi (dulu biasa disebut SHS). Gula yang keluar dicuci dengan air, kemudian dikeringkan kembali dengan menggunakan uap panas. Gula C dan D tidak diperlakukan seperti gula A, karena kedua gula tersebut dijadikan sebagai bibit pada masakan A.

Pengeringan dan Pengemasan

Gula hasil proses sentrifugasi memiliki kandungan air sekitar 1%, sehingga tidak bisa langsung dikemas dan perlu dikeringkan terlebih dulu. Pengeringan gula biasanya dilakukan dalam talang goyang. Talang goyang ini sekaligus juga berfungsi sebagai sortasi ukuran gula. Gula yang sudah kering didinginkan sebentar, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Gula hasil sortiran, yaitu yang berukulan terlalu kecil atau kristalnya berdempetan tidak terpisah, selanjutnya dilebur kembali.
Tolok Ukur Kinerja PG
Dalam proses ekstraksi dan kristalisasi sukrosa di PG yang kemudian menghasilkan gula pasir dibutuhkan suatu parameter yang bisa dijadikan ukuran apakah proses tersebut sudah berjalan dengan baik atau belum. Secara keseluruhan ukuran yang digunakan disebut overall recovery (OR). OR ini mencerminkan efisiensi PG karena menggambarkan jumlah gula yang bisa diperoleh dari tebu.
Overall recovery merupakan hasil kerja gabungan antara stasiun gilingan dengan stasiun pengolahan. Hasil kerja stasiun gilingan sebagaimana dijelaskan sebelumnya dinyatakan dalam mill extraction (ME), yang menggambarkan persentase gula yang berhasil dieks­traksi dalam nira mentah terhadap gula yang terkandung di dalam tebu. Hasil kerja stasiun pengolahan dinyatakan dalam boiling house recovery (BHR) yang mencerminkan persentase gula riil yang diperoleh terhadap gula yang berada dalam nira mentah. Nilai ME, BHR dan OR yang menunjukkan tingkat efisiensi PG yang tinggi ditampilkan pada Tabel berikut:

Tabel Nilai ME, BHR dan OR pada PG yang Efisien

Tolok Ukur
Nilai
ME, %
> 96,0
BHR, %
> 91,0
OR, %
> 87,5

Pembuatan Gula Merah Secara Tradisional

Penjelajahan walah di wilayah Banyumas akhirnya membawa walah ke salah satu produk industri rumah tangga yang cukup terkenal dari wilayah ini, yaitu gula merah yang juga disebut sebagai gula jawa atau gula kelapa. Gula kelapa hasil produksi Banyumas ini beda banget lho sama gula kelapa yang biasa dijual di pasar di kota-kota. Gula merah yang dijual di pasar-pasar kota besar kebanyakan berwarna coklat tua, atau cenderung kehitaman dan rasanya pun kadang sudah kurang manis bercampur rasa asin. Gula merah yang ada di kota jika disimpan terlalu lama biasanya berubah menjadi lembek dan lengket, sedangkan gula jawa produksi banyumas ini berwarna coklat terang, manisnya asli, dan keras, bahkan setelah lama disimpan sekalipun. Gula jawa yang masih asli ini, enak banget buat campuran masakan, semisal bacem, dan juga sebagai campuran es kelapa muda atau wedang jahe… hmmmmm.

Cerita ini bermula dari kakak ipar omnya walah yang meminta tolong buat memesan gula kelapa untuk dibawa buat oleh-oleh. Walah pun bisa berkenalan dengan pak Sumin, seorang pengolah gula kelapa yang kebetulan tinggal ga jauh dari kompleks tempat tinggal omnya walah. Bapak berusia 58 tahun ini pun menyambut gembira keinginan walah buat membuat tulisan tentang pembuatan gula merah secara tradisional yang sudah dilakoninya selama 41 tahun dan sudah menjadi profesi turun termurun dari orang tuanya dulu.

Proses yang mengawali rangkaian proses pengolahan gula merah ini adalah proses penyadapan. Gula merah ini memang dibuat dari hasil menyadap pohon kelapa pada pelepah daunnya yang belum mengembang. Proses penyadapan ini biasanya memakan waktu selama 24 jam, tetes demi tetes ditampung dalam sebuah wadah bambu kecil yang nanti akan dikumpulkan lagi dalam wadah bambu lagi yang lebih besar yang disebut bumbung. Dalam sehari, pak Sumin ini biasa menyadap minimal 30 pohon kelapa, dan biasanya pohon-pohon ini dikelola dengan sistim sewa, dengan bayaran gula merah antara 1 – 1,5 kg/pohon per bulan. Hasil sadapan yang disebut bandek di Banyumas, atau legen di wilayah lebih timur ini ga tentu jumlahnya. Saat suhu malam hari panas, hasilnya ga akan sebanyak saat suhu malam hari dingin O iya, bandek yang jadi bahan pembuatan gula merah ini berwarna putih keruh atau kekuningan. Bisa juga diminum langsung, atau difermentasikan menjadi tuak, minuman yang mengandung alkohol.

Bandek atau legen yang sudah terkumpul akan disaring untuk memisahkan kotoran, kemudian direbus setelah dicampur dengan larutan air rebusan kulit manggis dan gamping. Air rebusan manggis ini sekarang banyak digantikan dengan obat kimia yang dijual di toko obat untuk lebih mempercepat proses pembuatan dan pengeringan gula merah. Lama perebusan berkisar antara 3-4 jam, tergantung kadar air yang terkandung dalam bandek. Kandungan air dalam bandek ini dipengaruhi oleh cuaca. Saat turun hujan, kadar air yang terkandung dalam bandek menjadi lebih banyak dan membuat proses perebusan akan memakan waktu lebih lama.

Bandek atau legen ini direbus di atas tungku tanah liat yang menggunakan bahan bakar kayu dan merang (serbuk gergaji). Selama proses perebusan, bandek harus terkadang diaduk supaya tidak luber ke luar. Semakin lama, bandek akan menjadi mengental dan berubah warna menjadi kecoklatan. Jika sudah cukup kental, bandek pun diangkat dari tungku untuk dicetak. Setelah diangkat dari tungku pun, bandek harus terus diaduk sampai semakin mengental dan siap dicetak.


Calon gula jawa yang masih berupa cairan kental ini pun akhirnya dituang menggunakan gayung yang  terbuat dati batok kelapa ke dalam cetakan-cetakan kecil dari bambu yang sudah disiapkan sebelumnya. Proses penuangan adonan ini pun harus cepat, karena jika tidak, akan mengeras dan tidak bisa dicetak. Di Purbalingga, cetakan yang digunakan bukan dari bambu, melainkan batok kelapa, sehingga bentuk gulanya pun sedikit berbeda. Deretan bambu yang digunakan untuk mencetak gula kelapa ini pun mengingatkan walah pada cetakan kue putu, walaupun ukurannya emang jauh lebih besar.

Adonan gula merah ini akan mengeras saat dingin, dan proses ini biasanya memakan waktu sekitar 10 – 15 menit hingga gula merah sudah cukup mengeras dan bisa dilepas dari cetakan. O iya, cetakan-cetakan bambu itu bukan cetakan sekali pakai melainkan dipakai berulang-ulang sehingga harus dicuci setelah dipakai mencetak dan sebelum dipakai mencetak. Gula merah yang sudah dilepas dari cetakan ngga akan langsung dikemas, tapi diangin-anginkan dulu supaya bener-bener kering dan keras. Biasanya proses angin-angin ini memakan waktu sekitar beberapa jam sehingga kualitas gula jawa dapat terjaga saat pengemasan dan biasanya, hasil dari penyadapan 30 pohon kelapa itu menghasilkan 9 – 11 kg gula merah jadi yang biasanya dijual Rp 9200 per kilonya… wew… ga terlalu banyak yah ternyata hasilnya buat pak Sumin.

Demikian akhirnya walah bisa melihat secara langsung proses pembuatan gula kelapa secara tradisional di gubug sederhana pak Sumin. Sebagai perbandingan, keseluruhan proses pembuatan gula merah ini bisa dibilang nyaris sama lho dengan proses pembuatan minyak kelapa, tapi bahan bakunya memang berbeda. Jika gula kelapa menggunakan bandek yang merupakan hasil penyadapan pelepah daun kelapa, minyak kelapa menggunakan bahan baku dari santan. Akhir kata, ini menjadi pengalaman baru lagi buat walah setelah dulu walah juga berkesempatan melihat langsung proses pembuatan kompia dan pia-pia di Balong, pembuatan karak (kerupuk gendar) di Bratan, pembuatan sanggul dan bulu mata palsu di Kutasari, dan pembuatan instrumen gamelan di Mojolaban yang keseluruhannya masih dikerjakan secara manual. Sungguh satu pengalaman menarik yang bisa walah share buat teman-teman Empiyer yang belum berkesempatan melihat secara langsung. Tunggu cerita walah selanjutnya saat melihat langsung pembuatan getuk goreng khas Sokaraja yah

Kamis, 02 Agustus 2012

Efficiency and a Good Web Project Management System

Any hourly service can benefit from web project management. The online program will work for architects that design buildings and lawyers that work on multiple cases. An online management system can make your service more efficient and it can log your hours for you. More efficiency means that you can work on more projects. This will increase your cash flow. Your clients will rest easy knowing that they can rely on a computer program to count the hours you work on a specific project. It is good for transparency which builds trust. This should have a positive effect on your reputation and bring in more clients.

A web project management system is an online program that brings all collaborators into the project. Each person working on the projects can log into the system. The administrator of the system, also known as the boss, can control the access that each employee has. Certain employees may log in just to see a specific set of instructions. Others may enter the website to upload work and communicate about the direction of the project as a whole. This increases efficiency with everyone knowing their responsibility. The efficiency of each project will dictate how many new endeavors your business can take on.

A good program will let you juggle multiple projects at the same time. The user should be able to sort the separate agendas using tabs. Tabs are like the ones you see on an internet browser at the top of the page. They look like a filing cabinet full of files. Each file has its own marked tab. When you click on the tab it brings you to the corresponding project. All the information pops up in real time and you know exactly what is going on with that particular file. A good web project management program helps you keep the projects separate.

A quality web project management system will let you schedule the amount of work that needs to be put into each job. This can be done with a chart system that looks like a bar graph across a calendar. Each project gets its own colored bar and the bars can be stretched to fit the days on the calendar. This is an effective time management tool. It lets you know how long you've worked on a job and gives you a deadline. With more time on your hands you can make more money.
Phil is a guru in web project management. Learn more about web based project management by following Phil E Williams.

Four Actions That You Can Take Right Away in Order to Have a Productive Business Day

Doing more with my 24 hours is something that has my whole attention these days. Managing your time well seems to be an art. It's a topic that affects the productiveness of your day, and there a lot of tips and tricks that you can use to maximize your time.
But today I want to share some of the things that I notice are working for me and in my business. For some of you, they may be nothing new, but the truth is that these tips work and you don't need to complicate things.
Some of the best systems that work are the most simple ones.
Here are some of the ideas that you can implement right away to form better time management:
  • Do not open your email first thing in the morning
Have you noticed that when the first thing that you do after turning on your computer is to check your email, you usually stay there at least 30 minutes, maybe even an hour? Usually there are not important emails to attend to, but still you can't help checking, right? Don't be ashamed to admit this, you are not the only one. But you need to figure out a system that incorporates checking your email with being productive.
You need to have a schedule when you check your emails so that you don't check it 4-5 times a day... maybe more.
Create a goal for yourself; spend only 30 minutes in a day to check your email (preferably when you finish all your work) and then be done with looking at your email for that day.
  • Don't use your brain too much--take regular breaks
Yes, it's true. Your brain need some rest and you will be a lot more productive by taking a break every 3 or 4 hours. Don't work like a maniac all day long. Here is a nice schedule that you can follow to have a organized and productive working day (especially if you work from home):
7:00 - 8:00     Wake up and work out
8:00 - 9:00     Shower, dress, eat breakfast.
9:00 - 12:30   Do your work! (NO EMAIL!)
12:30 - 13:30 Lunch!
13:30 - 15:30 Do your work!
15:30 - 16:30 Take a break and anything you want
16:00 - 17:30 Do your work!
17:30 - 18:30 Reply to emails, plan the next day, finish your thing!
  • Keep your focus

Keeping your focus while at your computer is one of the simplest things that you can do... and it's very productive. If you don't have a crystal-clear goal when you are at your PC, trust me it's better to step away until you do. You will be so much more productive by doing this.
  • Don't compare yourself with your peeps
You will have a big problem doing this because you will not appreciate your small results.
Maybe you are at the beginning of your online journey and having 5-10 new subscribers is the best thing that happened to your business for a long time. You should really celebrate that! But if you look at the top person in your industry and see that she can get 700 sign-ups in one day, you can't really appreciate YOUR success.
Never forget. Your SUCCESS IS AMAZING even if it's a small or big result. It is still amazing because it's a result that moves businesses forward.
Keep that in mind! And think about the fact that the top person in your industry was at some point where you are right now but she never gave up.
And voila... we are at the end of this post. These are my recommendations for a productive day.
But all this advice is useless if you will not implement it right away and make them a habit. Probably the most important tip is that you need to implement this new way of doing things in the way you work. To have a productive business, you need to become a productive person and the best part is when you are productive you will perform in your business--and that is probably something that you definitely want.:)
Online Marketing Expert for Small Business Owners

Financial Planning at a Young Age

Financial planning is not something to do when you are in your 40s. Rather, it is something to start working on right now. For those who are young and just starting out in their careers, it is easy to lose focus of these long-term goals. Yet, when it comes to getting the type of funds you need for retirement, starting young makes the entire thing far less difficult. There is never a time when you are too young to start planning for your future.
More Time to Grow
One of the main reasons to start financial planning for retirement and beyond at a young age is better is because it provides your investments more time to grow. You could invest a small amount of money now and watch it grow over the years into something significantly more. On the other hand, if you wait ten years to start investment, you'll need to put more into those accounts to get the same type of growth. Starting now with a smaller investment is easier to do and likely more profitable.
You Have Debt
Most people out of college and into their first jobs have debt. They have student loans. Then they have mortgages. As you start a family, it is critical to plan for those "what if" situations. This means paying close attention to the details of your current life and planning for your family's needs should you be unable to be there. For example, insurance products are ideal for this. Use a term life policy to cover your income and debts for a period of time. If something happens to you, your family can remain in their home and continue their standard of life for some time.
It Makes Sense
There are many methods for investing. Perhaps you want to dabble in stocks and bonds on your own. On the other hand, you may want to open an IRA. You may want to check out a 529 plan for your children's education now so that they do not have to pay for student loans like you did. Starting now makes sense financially. It also can make all of the difference in what you are able to do. Later on in life, it will be harder to achieve these goals than it is now.
The bottom line is that financial planning should start soon, even with your first job. Even if you do not plan to stay there, opening a retirement account and starting to manage your investments is necessary. There is no guarantee that you can rely on Social Security in old age. If you want a quality retirement, plan for it now.

Article Source: http://EzineArticles.com/7305756

Financial Planning at a Young Age

Financial planning is not something to do when you are in your 40s. Rather, it is something to start working on right now. For those who are young and just starting out in their careers, it is easy to lose focus of these long-term goals. Yet, when it comes to getting the type of funds you need for retirement, starting young makes the entire thing far less difficult. There is never a time when you are too young to start planning for your future.
More Time to Grow
One of the main reasons to start financial planning for retirement and beyond at a young age is better is because it provides your investments more time to grow. You could invest a small amount of money now and watch it grow over the years into something significantly more. On the other hand, if you wait ten years to start investment, you'll need to put more into those accounts to get the same type of growth. Starting now with a smaller investment is easier to do and likely more profitable.
You Have Debt
Most people out of college and into their first jobs have debt. They have student loans. Then they have mortgages. As you start a family, it is critical to plan for those "what if" situations. This means paying close attention to the details of your current life and planning for your family's needs should you be unable to be there. For example, insurance products are ideal for this. Use a term life policy to cover your income and debts for a period of time. If something happens to you, your family can remain in their home and continue their standard of life for some time.
It Makes Sense
There are many methods for investing. Perhaps you want to dabble in stocks and bonds on your own. On the other hand, you may want to open an IRA. You may want to check out a 529 plan for your children's education now so that they do not have to pay for student loans like you did. Starting now makes sense financially. It also can make all of the difference in what you are able to do. Later on in life, it will be harder to achieve these goals than it is now.
The bottom line is that financial planning should start soon, even with your first job. Even if you do not plan to stay there, opening a retirement account and starting to manage your investments is necessary. There is no guarantee that you can rely on Social Security in old age. If you want a quality retirement, plan for it now.

Article Source: http://EzineArticles.com/7305756

10 Thing Sales People Need to Know About C-Level Decision Makers

Selling to high-level decision makers is challenging at the best of times. However, it can be simpler in case you understand a few business principles.

C-level decision makers are paid to improve their business results. Irrespective of how the media portrays these executives, their primary concern is to improve their business. This includes increasing sales, market share, customer loyalty; reducing costs, errors, or worker turnover; improving productivity, worker engagement, customer support, etc.

How does your product, service or solution address of these issues?
C-level decision makers deal with changing priorities. Improving customer engagement could be a top priority today but tomorrow that executive may be faced with cutting $250,000 in expenses. That means they sometimes go icy after expressing preliminary interest in your solution.

Do you have a strategy in place to keep your solution current?
C-level decision makersare very busy. The average executive arrives early in the morning & stays late in to the evening. They get dozens of calls every day, get lots of emails, & attend lots of meetings. This means that you need to maximize every minute you have when you connect with them. This is applicable to phone conversations & face-to-face meetings.


Do you know EXACTLY what to say when you connect with these individuals?
C-level decision makersrely on others. Contrary to popular belief, these high-ranking big-wigs seldom make decisions on their own. They often defer to other people on their team & ask for feedback from peers and/or subordinates. This means you need to involve these people in your conversations & include them in the decision making method.

Do you have the ability to finesse this?

C-level decision makers don’t like to make mistakes. A major mistake can affect an executive’s reputation in their company. This affects the decision-making process which means you need to uncover their risk factor during your conversations.

How will you reduce your prospect’s risk factor?

C-level decision makers have big egos. Most executives have a healthy ego which is one of the things that helped them achieve their status in the company. This means that you need to be very confident in your own abilities when selling to these individuals. Don’t back down when you’re challenged. In fact, doing so could cost you the business because C-level execs want to deal with people who believe in what they do.

Are you confident enough to deal directly with C-level executives?

C-level decision makers spend the bulk of their day in meetings.The next time you’re in the office, watch an executive. Chances are you will see them dashing from meeting to meeting. Your prospects are in the same position. They aren’t sitting at their desk waiting for you to call them.

Are you persistent in your efforts to connect with these individuals?

C-level decision makers have at least 40 hours of work on their desk at any given time. Several executives I know have expressed these sentiment, “I will never get caught up” or “Just when I think I can’t get busier, I do” or “I never call a sales person back because I already have too much on my plate.” you need to give these individual’s an extremely good reason to meet with you or take your call.

Is your approach effective?

C-level decision makers receive upwards of 150 emails every day. Many sales people use email as their major form of correspondence and it can be ineffective because most C-level decision makers simply don’t have time to respond to every email. A Managing Director once told me that he prefers telephone correspondence because he simply can’t get to every email, even when he wants to.

Do you use a variety of strategies to connect with C-level decision makers?

C-level decision makers think big picture.Stop focusing on your product or your company and start looking at the big picture of your prospect’s business. Most C-level execs don’t get bogged down in the little details of their business—they pay others to take care of the details. I once met with the President of a $125 million company and made the mistake of asking her questions about front-line execution instead of top-level strategic issues.
 by: Kelley Robertson

Rabu, 01 Agustus 2012

Industri Rokok Indonesia Sedang Menjemput Kematian?

http://strategimanajemen.net/wp-content/uploads/2010/03/deth.jpgDalam wacana manajemen strategi, kita pernah mengenal apa yang disebut sebagai industry competitive analysis. Analisa yang dikenalkan oleh guru strategi Michael Porter ini sejatinya ingin melihat apakah sebuah industri merupakan arena bisnis yang atraktif, atau sebaliknya selalu digelayuti dengan harapan yang tergores, dan karenanya tak layak untuk digumuli.
Industri rokok ditanah air mungkin tengah berada dalam harapan yang tercabik itu : dibalik kepulan asap yang demikian memabukkan, terbentang jalan terjal yang pelan-pelan bisa membuatnya terkapar mati. Seperti nikmatnya asap tembakau yang secara pelahan akan membunuh penghisapnya, para produsen rokok ditanah air mungkin juga tengah meretas jalan yang sama : pelan-pelan mereka akan tersedot dalam asap yang membuat mereka bangkrut dan terbaring tewas.
Make no mistake. Industri rokok di tanah air tetap merupakan sebuah industri yang eksotis dengan jumlah perokok terbesar nomer tiga di dunia (setelah China dan India). Kian tahun juga makin banyak perokok belia yang dengan mudah terseret dalam pusaran asap yang terus menari-nari.
Itulah mengapa Philip Morris (alias Marlboro Man) mencaplok Sampoerna dan kemudian BAT melumat Bentoel. Sebab mereka percaya industri rokok di tanah air masih punya harapan yang gilang gemilang. Sebab mereka percaya, sangat mudah mengelabui rakyat Indonesia untuk masuk dalam jebakan candu yang mereka rajut dengan seringai senyum yang tak kenal ampun.
Para kapitalis asing itu (juga para juragan lokal dari Kediri dan Kudus)  akan tertawa terkeh-kekeh setiap kali melihat kepulan asap membakar di setiap sudut pelosok negeri. Mereka tertawa sebab itu artinya mereka berhasil menyedot uang trilyunan rupiah dari kantong para perokok di segenap penjuru nusantara; dan kemudian menyimpan uang itu di markas mereka yang megah dan angkuh nun jauh disana – di pusat kapitalis dunia.
But, how long can you go? Sampai kapan seringai senyum kapitalis itu terus menerus menari dibalik kekonyolan para perokok di bumi pertiwi? Sampai kapan para kapitalis rokok global itu terus berdansa dibalik peluh para perokok yang terus ditipunya?
Mungkin tak lama lagi. Mengapa? Ada tiga alasan disini. Yang pertama adalah Rencana Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai tindak lanjut dari UU yang menyatakan rokok sebagai zat adiktif. Isi RPP ini antara lain adalah melarang habis iklan rokok dimanapun (baik di media cetak, bilboard yang sekarang ada dimana-mana itu, atau juga sebagai sponsor kegiatan musik, olahraga dll). Jika RPM ini disetujui, industri rokok dan para kapitalis dibaliknya, sungguh akan terkapar dan terluka parah.
Lobi para produsen rokok segera bersatu dan melakukan serangan balik (dan tentu uang milyaran rupiah akan mengalir berceceran sebagai penyedap upaya lobi). Argumen klasik selalu dinyanyikan : nasib ribuan petani tembakau akan terdesak; dan hey, selama ini kami sudah menyumbang cukai triyunan rupiah kepada negara.
(Sumbangan cukai ini sebenarnya dari para perokok, bukan dari produen. Dan asal tahu, uang yang dipakai oleh para perokok buat membeli sebungkus Dji Sam Soe atau A Mild itu ternyata – gilanya – banyak yang diambil dari jatah uang pendidikan anak dan uang makan keluarga sang perokok. Maksudnya, para perokok itu, meskipun miskin dan tidak punya banyak uang, lebih rela menggunakan uangnya untuk membeli rokok daripada untuk membayar SPP anak-anaknya, atau membeli lauk yang memadai buat keluarganya. Disini jelas : jutaan perokok yang mayoritas berasal dari kelas menengah ke bawah, tertipu oleh para produsen rokok; dan mereka lebih rela memberi uang kepada kapitalis rokok yang sudah kaya itu, dibanding menyekolahkan anak-anaknya. Jutaan anak-anak di Indonesia terampas masa depannya, hanya karena ayah mereka lebih memilih membeli rokok dibanding membayar uang sekolah. Sebuah ironi yang tragis. Dan aha…..para kapitalis rokok global itu terus tertawa terkekeh-kekeh melihat ironi ini……
Argumen para petani tembakau terdesak juga mitos. Jika RPP itu diberlakukan, permintaan tembakau tetap akan ada. Bahkan selama ini para produsen rokok Indonesia harus mengimpor tembakau (!) dari China karena kekurangan pasokan dari dalam negeri).
Alasan kedua mengapa industri dan bisnis rokok di tanah air akan mengalami penurunan adalah ini : kesadaran gaya hidup sehat yang terus tumbuh. Lihatlah tren olah tubuh yang kian banyak merasuk dalam gaya hidup masyarakat masa kini : ada yang rajin bersepeda ke kantor, giat melakukan futsal, atau juga tekun ber-gym ria untuk membuat tubuh selalu sehat. Semoga saja kesadaran ini membuat orang makin menjauhi pekatnya asap rokok yang membius dan mematikan itu.
Banyak pihak yang kemudian juga berharap agar kesadaran itu membuat gerakan serentak : yakni menjadikan para perokok sebagai pesakitan yang layak dijauhi karena membuat lingkungan tidak sehat. Dulu, ketika saya sekolah di Amerika, saya melihat hal itu terjadi : teman-teman saya yang perokok – dan jumlahnya sedikit sekali – pelan-pelan selalu dijauhi karena dianggap hanya membawa asap rokok yang penuh racun. Akibatnya jelas : para perokok itu menjadi terisolasi dan terkucil dari lingkaran pergaulan.
Alasan terakhir : makin banyak gerakan masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang menekan ruang gerak industri rokok. Beberapa diantaranya bahkan membuat langkah kreatif : membuat pencitraan para produsen rokok sebagai monster kapitalis yang rakus dan merampas masa depan anak-anak miskin Indonesia. Pencitraan semacam ini menarik sebab ternyata lebih efektif dibanding kampanye peringatan bahaya merokok yang tertera di setiap bungkus dan iklan rokok itu.
Dalam sejumlah riset neurologi, ternyata slogan bahaya merokok itu justru mendorong orang untuk makin banyak merokok ! Setelah diteliti ternyata ada bagian sel saraf otak yang cenderung mendorong orang melakukan hal kebalikan dari apa yang tertera dalam sebuah peringatan (termasuk peringatan bahaya merokok). Jadi para penelit itu berkesimpulan, kalimat bahaya merokok itu justru menguntungkan para produsen rokok. Nah lho.
Sebaliknya, dalam sejumlah eksperimen iklan, digambarkan para produsen rokok sebagai monster yang rakus dan merampas hak masa depan anak-anak; dan harus dilawan oleh sekumpulan anak muda yang idealis dan memperjuangkan nasib masyarakat. Ajaibnya, ketika iklan eksperimen ini ditayangkan, jumlah anak muda yang merokok turun drastis. Alasannya jelas : bagi anak muda yang tengah mencari jati dirinya, citra anak muda idealis yang melawan kemungkaran itu bagaikan hero yang menancap di benaknya. Sebaliknya mereka juga malu untuk merokok sebab itu artinya menyamakan mereka dengan monster rakus yang mencabik nasib dan masa depan anak-anak (kalau saja saya punya uang banyak, saya akan menayangkan iklan ini di televisi dan koran-koran. Dijamin angka penjualan A Mild dan Djarum Super pasti akan menurun drastis….).
Demikianlah tiga alasan kunci mengapa industri rokok di tanah air tengah berkemas menuju ladang pembantaian yang mematikan. Selama ini pelan-pelan mereka telah membunuh jutaan perokok di tanah air menuju alam baka (jumlah orang yang mati karena kegiatan teroris di tanah air sungguh tak ada bandingannya dibanding mereka yang gugur lantaran asap rokok yang mematikan. Cuma bedanya kalau para teroris terus diburu dan ditembak mati, maka para produsen rokok itu dibiarkan leyeh-leyeh di rumahnya yang megah dan bertebaran di manca negara……).
Mungkin harus tiba saatnya, industri rokok Indonesia menemui nasib seperti korbannya : terjerat asap yang membius dan pelan-pelan membawa mereka menuju sakaratul maut.

3 Perusahaan yang Mengubah Dunia

Perusahaan atau korporasi kini tampaknya telah menjadi entitas yang sangat dekat dengan keseharian kita. Sejak dari bangun di keheningan fajar hingga kembali terlelap dalam kegelapan malam, kita senantiasa ditemani dengan beragam produk dari beragam merek dan perusahaan.
Demikianlah, ketika bangun pagi dan dan beranjak ke kamar mandi, kita mungkin segera disergap dengan sabun mandi Lifebouy dan pasta gigi Pepsodent produksi Unilever. Lalu, kita sarapan sereal dan minum susu dari Nestle. Kita kemudian berangkat ke kantor, mungkin dengan naik Grand Livina dari Nissan, sembari mendengarkan musik melalui audio Kenwood dengan alunan CD produksi Sony BMG.
Di kantor kita segera menyalakan komputer bermerk Acer, membuka aplikasi email produksi Microsoft Outlook serta memprint laporan dengan kertas PaperOne di printer merk Hewlett Packard. Siang-siang, kita bersama teman makan siang di Hoka-hoka Bento, ber-sms ria melalui ponsel Nokia sambil minum teh Botol Sosro.
http://strategimanajemen.net/wp-content/uploads/2009/07/cars-re.jpgSenja hari kita pulang ke rumah, sesampai dirumah leyeh-leyeh sambil nonton channel RCTI dari televisi merk Samsung. Saat makan malam kita mungkin ditemani sayur mayur yang kemarin dibeli dari Carrefour dan segelas air mineral produksi Aqua. Malam merambat, dan kemudian kita beranjak tidur sambil tak lupa mematikan lampu neon merk Phillips.
Hidup kita memang tak lagi bisa dipisahkan dari beragam merk yang mengitari kita. Dan kita tahu, semua produk dan merk itu dibangun oleh sebuah perusahaan. Oleh sebuah business company. Paparan diatas dengan segera juga menyadarkan kita betapa entitas perusahaan telah memberikan pengaruh yang sedemikian mendalam dalam setiap relung kehidupan kita.
Pikiran semacam itulah yang menggelayut di kepala saya ketika melihat sebuah buku bertajuk Companies that Changed the World. Sejarah dunia kini barangkali memang banyak ditentukan oleh dinamika perusahaan bisnis. Wajah perdaban manusia mungkin kian pekat diwarnai oleh motif bisnis yang menggerakkan jutaan perusahaan itu.
company-book-re.jpgDan memang, dibalik spirit untuk membentangkan profit yang melimpah, terdapat sejumlah perusahaan yang melalui perannya benar-benar telah merubah dunia. Inilah barisan perusahaan yang dengan gigih telah memberikan sumbangan penting bagi peradabahan manusia – for better or worse.
Dalam buku itu diulas mengenai 50 perusahaan dunia yang telah memberikan peran merubah jagat dimana kita tinggal. Dalam kolom ringkas ini saya hanya akan mendedahkan kisah tiga diantaranya. Tiga perusahaan yang menurut saya telah memberikan sumbangan amat penting bagi kemajuan zaman dan kehidupan umat manusia. Lalu, siapa saja tiga perusahaan legendaris ini?
Yang pertama tentu saja adalah sebuah perusahaan yang didirikan oleh anak muda dari kota Seattle yang kena DO dari Harvard. Jutaan pekerja kantoran di segenap penjuru langit barangkali memulai hari kerjanya dengan membuka aplikasi keluaran perusahaan ini – entah dalam bentuk aplikasi email, excel, word ataupun sekedar membuka program windows.
Ya, Microsoft – melalui produk office-nya yang mendominasi pasar aplikasi kantoran – tak pelak telah memberikan sumbangan yang amat berarti bagi peningkatan produktivitas jutaan manusia sejagat. Tak terbayang betapa orang jaman dulu bekerja sebelum ada komputer dan program office. Mereka mengetik dengan mesin ketik yang cetak cetok itu, plus kertas karbon hitam yang belepotan (sebelum ada printer dan teknik copy paste). Betapa “indahnya” masa lalu itu……
Perusahaan legendaris kedua adalah yang produknya barangkali sekarang ada di kantong baju Anda. Perusahaan asal Finlandia ini memang merupakan pioner teknologi GSM yang menjadi cikal bikal meledaknya produk ponsel di seluruh dunia. Nokia barangkali memang representasi dari inovasi teknologi ponsel — salah satu temuan teknologi terpenting dalam era modern ini. Produk ponsel – dan Nokia sebagai salah satu pionernya – tak pelak telah merubah cara kita berkomunikasi, dan juga cara kita membangun relasi dengan orang lain.
Perusahaan yang terakhir adalah sebuah pabrikan yang didirikan anak muda jebolan teknik mesin dari kota Tokyo di Jepang. Sejak muda ia selalu bermimpi bisa membuat kendaraan kecil yang bisa membuat orang melakukan perjalanan dengan cepat dan praktis. Anak muda yang punya impian indah itu adalah Soichiro Honda, dan kelak kita mengenal produk sepeda motor legendaris bermerk Honda. Dan kini, tiap pagi, kita melihat konvoi ribuan sepeda motor Honda meliuk-liuk di jalanan, menembus angin, dan berperan menjadi angkutan yang praktis dan murah bagi rakyat kebanyakan.
Demikianlah tiga produk dari tiga perusahaan yang saya kira telah berperan merubah dunia. Aplikasi Windows, ponsel Nokia, dan sepeda motor Honda telah merubah cara kita menjalani hidup dan juga cara kita bekerja. Ketiga produk ini dengan caranya masing-masing telah ikut membentuk wajah peradaban manusia.

Sepotong Kisah tentang Strategi Inovasi Apple

http://strategimanajemen.net/wp-content/uploads/2009/11/ipod-resize.jpgSetiap 10 tahun sekali majalah bisnis Fortune memilih CEO of the Decade atau semacam kapten bisnis terhebat sepanjang 10 tahun. Kali ini pada tahun 2009 atau menjelang pergantian dasawarsa mereka menjatuhkan pilihannya pada sosok bernama Steve Jobs. Sosok karismatik ini kita tahu merupakan tokoh legendaris dibalik menjulangnya nama Apple dalam jagat kompetisi produk-produk digital.
Kalaulah kita hendak mendulang sebuah eksemplar yang nyaris sempurna tentang INOVASI, maka perusahaan Apple mungkin pilihan yang tak terelakkan. Hampir semua perusahan di dunia, termasuk pesaingnya Sony, Nokia dan Micorosoft, dipaksa untuk terkesima menyaksikan serangkaian inovasi nan brilian yang diracik oleh Steve dan pasukannya.
Apple, dengan Steve Jobs sebagai Sang Master-nya, memang telah mendemonstrasikan bagaimana kekuatan inovasi dan daya kreativitas disenyawakan dalam parade produk-produk nan elegan. Yang mungkin perlu juga dicatat adalah ini : melalui parade produk brilian ini Apple telah merubah secara radikal lansekap bisnis dalam tiga industri yang berbeda, yakni industri PC, musik, dan telekomunikasi.
Dalam industri PC, Apple memberikan pelajaran penting tentang bagaimana mendesain sebuah produk dengan sentuhan estetika, lengkap dengan aplikasi yang tangguh dan user-friendly. Hasilnya adalah deretan produk bertajuk iMac dan Powerbook, serangkaian produk yang kemudian banyak ditiru oleh para pengekornya.
Dalam industri musik, serbuan produk iPod-nya yang mendunia telah membuat para petinggi Sony termehek-mehek, pening dan tak tahu harus berbuat apa. Para petinggi label musik dunia seperti BMG dan Universal Music juga hanya bisa gigit jari ketika tahu 80 % pangsa musik digital dibeli melalui iTunes, toko musik digital milik Apple.
Dalam industri telco, produk iPhone yang sungguh inovatif itu mungkin telah merubah definisi kita tentang apa itu arti produk ponsel. Kecanggihan ponsel ini, lengkap dengan ribuan aplikasi yang mudah didowload melalui iTune, membuat ponsel lain seperti milik Nokia menjadi ketinggalan jaman. Kekuatan ponsel masa depan ada pada kekuatan software-nya, dan sungguh dalam arena ini Apple telah melangkah jauh meninggalkan Nokia yang kini mungkin tengah terpuruk dalam hempasan debu kekalahan.
Tak banyak sebuah perusahaan yang mampu memporak-porandakan lansekap persaingan dalam tiga jenis industri yang berbeda. Fakta bahwa Apple selalu mampu membentangkan “samudra biru (blue ocean)” dalam setiap industri yang dimasukinya membuat ia kini dianggap sebagai perusahaan yang lebih berwibawa dibanding IBM, GE atau Microsoft sekalipun.
Dan tak pelak, sosok Steve Jobs memiliki peran yang amat sentral dalam proses itu. Sosoknya mungkin kelak akan dikenang sebagai salah satu figur inovasi terpenting dalam sejarah bisnis modern - sejajar dengan nama besar seperti Thomas Alva Edison, Henry Ford, Soichiro Honda dan Bill Gates.
Ketika masih muda belia, Steve pernah bilang kepara para jurnalis, bahwa ia ingin merubah dunia dengan produk-produk yang diciptakannya. Kini dengan rangkaian iMac, iPod dan iPhone yang melanglang di penjuru buana, ia mungkin telah ikut merubah hidup sebagian manusia yang menjadi pelanggannya.
“Jangan pernah setengah hati mengerjakan sesuatu yang engkau cintai, karena hidup ini terlalu pendek,” begitu Steve Jobs pernah berujar ketika diwawancarai media.
Hmm, sebuah kalimat bijak yang mungkin layak kita renungkan.

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN...!

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN...!
 
 
Selama kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan.

Atau bisa juga dengan berguru dan mengabdi pada seorang begawan bisnis. Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya. Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya, segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut, dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme, ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses -- lebih spesifiknya pebisnis sukses -- harus menempuh perjalanan yang sarat dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co. (baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP. Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan, dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja. Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan, sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha (juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P (product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan” yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis. Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya “The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan menjadi pebisnis.